Recent post
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Ibu
Aku ingin rumah yang kita huni ini
Tetap berdiri kokoh
Walau banyak badai disertai hujan
Bapak
Aku ingin tak ada lagi pertengkaran
Yang terdengar menggema di rumah ini
Bukan karena kambing hitam ataupun siapa
Tapi ini karena kesadaran diri
Ibu
Aku ingin kau mengajariku tentang keadilan
Agar aku bisa tahu
Mengapa di rumah ini banyak ketidakseimbangan
Bapak
Aku ingin kau beli kapur barus yang banyak sekali
Atau mungkin perangkap tikus yang mematikan
Karena setiap kali ku tertidur
Selalu saja terdengar decitan-decitan aneh dari makhluk kotor yang menjijikkan
Sudah banyak korban yang dia makan dengan gigi kotornya itu
Lihat! Bunga yang kutanam dia gigit tanpa belas kasihan
Pak, akankah kau diam saja melihat mereka memakan barang-barang kita?
Ibu
Aku ingin melihat birunya langit dari rumah ini
Tanpa terhalang sedikitpun awan
Apalagi sesuatu yang menyerupai awan
Yang hitam dan menyesakkan
Ibu
Aku ingin melihat rumah kita dari atas awan
Apakah tetap hijau seperti yang kulihat dalam album kenangan?
Ataukah terlihat lebih menakjubkan?
Bapak
Aku ingin tahu kenapa rumah kita benar-benar tak seperti apa yang kubayangkan?
Kemana larinya rumput-rumput hijau yang menyejukkan mata?
Kenapa hanya ada tanah tandus yang tak bisa kutumbuhi bunga?
Kenapa semuanya tak seperti dulu lagi, Pak?
Ibu
Jika aku jadi serdadu tentara atau abri yang kuat
Akankah aku bisa menahan kokohnya rumah ini?
Ibu
Jika aku panggil seorang satpam ke rumah ini
Akankah satpam itu bisa mengatasi pertengkaran-pertengkaran yang ada di rumah ini?
Ibu
Jika aku jadi hakim pengadilan
Akankah aku bisa bersikap adil sehingga tercipta lagi keseimbangan di rumah ini?
Ibu
Jika aku menyemprotkan banyak racun mematikan pada tikus-tikus rumah ini
Akankah mereka semua mati dan tak memakan barang-barang kita lagi?
Ibu
Jika aku sirami semua tanah di rumah ini
Akankah rumah ini kembali hijau dan dinaungi birunya langit yang hanya berhiaskan awan putih?
Bapak
Apakah kau percaya bahwa aku bisa melakukan semuanya?
Melakukan apapun yang kubisa agar rumah kita tak lebih buruk dari ini.
Untuk rumah kita
Ibu? bergenang airmataku
Terbayang wajahmu yang redup sayu
Kudusnya kasih yang engkau hamparkan
Bagaikan laut yang tak bertepian
Biarpun kepahitan telah engkau rasakan
Tidak pun kau merasa jemu
Mengasuh dan mendidik kami semua anakmu
Dari kecil hingga dewasa
Hidupmu kau korbankan
Biarpun dirimu telah terkorban
Tak dapat ku balasi
Akan semua ini
Semoga Tuhan membekati kehidupanmu ibu?
Ibu? kau ampunilah dosaku
Andainya pernah menghiris hatimu
Restumu yang amat aku harapkan
Kerana di situ letak syurgaku
Tabahnya melayani kenakalan anakmu
Mengajarku erti kesabaran
Kau bagai pelita di kala aku kegelapan
Menyuluh jalan kehidupan
Kasih sayangmu sungguh bernilai
Itulah harta yang kau berikan
Ibu? kau ampunilah dosaku
Andainya pernah menghiris hatimu
Restumu yang amat aku harapkan
Kerana di situ letaknya syurgaku
Tabahnya melayani kenakalan anakmu
Mengajarku erti kesabaran
Kau bagai pelita di kala aku kegelapan
Menyuluh jalan kehidupan
Kasihanilah, Tuhan?
Ibu yang telah melahirkan diriku
Bagaikan kasih ibu sewaktu kecilku
Moga bahagia ibu di dunia dan di akhirat sana
Moga bahagia ibu di dunia dan di akhirat sana
Sekeping otak dibawa berlari
Jauh melalui jalanan sepi
Jalan kemenangan indah terbentang
Di depan matamu mahasiswa.
Tapi jalan kemenangan
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada godaan menunggu mangsa.
Akan kuatkah tekat yang membara
Bila disapa game yang menarik
Akan kaburkah mata yang meratap
Bila disapa buku yang tebal.
Mengharap senang dalam kuliah
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh hujungnya belum tiba
(masuknya sudah lama tapi tak lulus2)Navigation